Posts

Going Through a Rough Patch: Tentang Hidup yang Semakin Menarik

Image
Saya dan istri tiba di teras rumah kira-kira pukul 8.30 malam. Saya pulang mengajar les di kursusan sementara dia pulang mengajar ngaji di sebuah TPQ. Sebagaimana hari-hari lainnya, kalau saya ada jam mengajar sore dan habis magrib, maka dia saya antar ke TPQ lalu saya jemput sekitar jam 8. Biasanya dia menunggu di sebuah warkop sembari mengetik di laptop.   Kami sesekali bertukar kata, sambil memandangi layar ponsel masing-masing. Sebenarnya pikiran pusing sebab honor proofreading tak kunjung cair padahal sudah hampir dua pekan sejak penyerahan saat deadline . Bagi kami yang sama-sama pekerja freelance , pencairan honor sungguh sangat kami nantikan sebab dari sanalah dapur berkepul dan sumber anak bisa jajan. Pahit manis kehidupan, gelap terang sanubari--semoga tetap dalam keimanan (Dok. pri) Bunda hanya memasan es teh selama menunggu saya. Saat tiba, saya tidak pesan apa pun selain duduk sebentar sambil meng- update kabar. Sesekali mengecek saldo rekening BCA kalau-kalau uan...

Hikayat Sebutir Nasi: Dari Perih Kelaparan Menuju Kedaulatan Pangan

Image
Saya terduduk lemas. Penjaga toko itu menolak dengan tegas. Tak boleh saya pinjam satu liter beras. Padahal sebagai pelanggan tetap, saya sudah memohon memelas. Saya janjikan bayar utang malam hari begitu lekas. Dia bergeming dan saya menahan napas. Melangkah pulang dengan setengah liter beras dan sebungkus mi instan pas. Uang Rp10.000 pun tandas. Ketika memasuki teras, saya melihat seorang bayi tertidur pulas. Sedangkan kakaknya bermain tanpa cemas. Di kedua mata mendadak kurasakan ada bulir-bulir panas. Walau terjadi tahun 2012 silam, saat kami masih tinggal di Bogor, sepenggal fragmen itu tak mungkin saya lupakan. Karena sakit, saya memutuskan resign dari kantor dan menggeluti dunia penerjemahan juga penyuntingan buku sebagai sumber pendapatan. Aktivitas ini ideal sebab bisa saya kerjakan secara remote sembari membantu istri mengasuh dua balita. Perut perih sepanjang hari Namun pada satu titik, pembayaran honor menerjemah dari sebuah penerbit—yang angkanya lumayan—ternyata meles...

How Andika Wira Teja Gave up His Master's Scholarship to Save His Village

Image
I Gede Andika Wira Teja never imagined that returning home to Pemuteran, the village where he was born, would be a turning point. In March 2020, he returned to his hometown to ask for his parents’ blessing before leaving for the United Kingdom to pursue his master’s degree. At that time, the COVID-19 pandemic was sweeping across the globe, reaching Bali as well. This young man from Buleleng born on April 21, 1998—also fondly known as Dika—was forced to delay his departure until September 2020. Upon his return, he was met with a disheartening scene. I GEDE ANDIKA Wira Teja encourages local children to love nature while learning. | Doc. SATU Indonesia Awards Because of the pandemic, elementary and middle school students were forced to study from home. Unfortunately, not all students in Pemuteran could access online learning easily. Hundreds of children from low-income families struggled to buy internet data packages, making it nearly impossible for them to continue their studies....