Hikayat Sebutir Nasi: Dari Perih Kelaparan Menuju Kedaulatan Pangan
Saya terduduk lemas. Penjaga toko itu menolak dengan tegas. Tak boleh saya pinjam satu liter beras. Padahal sebagai pelanggan tetap, saya sudah memohon memelas. Saya janjikan bayar utang malam hari begitu lekas. Dia bergeming dan saya menahan napas. Melangkah pulang dengan setengah liter beras dan sebungkus mi instan pas. Uang Rp10.000 pun tandas. Ketika memasuki teras, saya melihat seorang bayi tertidur pulas. Sedangkan kakaknya bermain tanpa cemas. Di kedua mata mendadak kurasakan ada bulir-bulir panas. Walau terjadi tahun 2012 silam, saat kami masih tinggal di Bogor, sepenggal fragmen itu tak mungkin saya lupakan. Karena sakit, saya memutuskan resign dari kantor dan menggeluti dunia penerjemahan juga penyuntingan buku sebagai sumber pendapatan. Aktivitas ini ideal sebab bisa saya kerjakan secara remote sembari membantu istri mengasuh dua balita. Perut perih sepanjang hari Namun pada satu titik, pembayaran honor menerjemah dari sebuah penerbit—yang angkanya lumayan—ternyata meles...