Hikayat Sebutir Nasi: Dari Perih Kelaparan Menuju Kedaulatan Pangan

Saya terduduk lemas. Penjaga toko itu menolak dengan tegas. Tak boleh saya pinjam satu liter beras. Padahal sebagai pelanggan tetap, saya sudah memohon memelas. Saya janjikan bayar utang malam hari begitu lekas. Dia bergeming dan saya menahan napas. Melangkah pulang dengan setengah liter beras dan sebungkus mi instan pas. Uang Rp10.000 pun tandas. Ketika memasuki teras, saya melihat seorang bayi tertidur pulas. Sedangkan kakaknya bermain tanpa cemas. Di kedua mata mendadak kurasakan ada bulir-bulir panas.

Walau terjadi tahun 2012 silam, saat kami masih tinggal di Bogor, sepenggal fragmen itu tak mungkin saya lupakan. Karena sakit, saya memutuskan resign dari kantor dan menggeluti dunia penerjemahan juga penyuntingan buku sebagai sumber pendapatan. Aktivitas ini ideal sebab bisa saya kerjakan secara remote sembari membantu istri mengasuh dua balita.

Perut perih sepanjang hari

Namun pada satu titik, pembayaran honor menerjemah dari sebuah penerbit—yang angkanya lumayan—ternyata meleset dari jadwal yang dijanjikan. Lalu terjadilah apa yang mesti terjadi. Dengan uang tinggal sepuluh ribu rupiah, saya mencoba meminjam satu liter beras di toko kelontong langganan tak jauh dari rumah. Dengan begitu, sisa uang bisa saya belikan lauk yang layak bagi kami bertiga.

Saya janji akan bayar utang pada malam hari begitu ada uang. Seorang teman telah memesan wingko buatan kami untuk dibawa ke Bengkulu sebagai oleh-oleh buat ibunya. Dengan bahan yang ada, wingko pun matang sore hari dan akhirnya betul dibayar pada malam hari saat saya antarkan ke rumahnya.

Hingga kini, pengalaman lapar sepanjang hari sebab perut hanya diganjal satu bungkus mi instan untuk bertiga terus berpijar dalam memori. Bukan ingatan kelam, tapi sebuah kenangan pahit tentang perihnya perut tanpa makanan. Betapa mengucap kata ‘utang’ kepada orang terdekat pun terlalu berat akibat rasa malu dan segan.

Bernas, solusi cerdas

Sejak saat itu, saya tak ingin orang lain dilanda kelaparan. Saya telah merasakan langsung betapa kalutnya pikiran saat perut keroncongan. Orang bisa khilaf dan kalap dengan melakukan tindakan-tindakan di luar dugaan—demi mengusir sensasi perih akibat tak mengasup makanan. Betapa lapar mungkin menjadi sumber makar; bahwa perut kosong bisa memicu orang beloon.

Saya bersyukur menemukan komunitas Bernas (Berbagi Nasi) yang digagas sejumlah anak muda di Bandung. Organisasi tanpa bentuk ini bergerak sporadis di berbagai kota, tak terkecuali Bogor. Berkali-kali saya terlibat dalam kegiatan rutin sekali dalam dua pekan setiap Jumat malam. Hujan atau gerimis, saya terus jalan—bersama anak-anak SMK setempat yang penuh semangat. Kami sambangi pemulung dan terutama gelandangan yang ngemper di ruko-ruko di sepanjang Jl. Pajajaran hingga Jl. Merdeka dan Suryakencana.

Lambat laun Bernas jadi solusi cerdas bagi mereka yang lapar atau sekadar butuh tikar. Dari sebungkus nasi, aksi bergerak menjadi penggalangan donasi untuk berbagai kebutuhan; mulai dari alas tidur, bantuan kesehatan, hingga musibah seperti kebakaran.

Salah satu momen paling berkesan adalah mendatangi sebuah panti di kawasan Pasirkuda Bogor. Anak-anak dari yayasan yang sama terpaksa dikumpulkan di satu lokasi karena panti asal mereka mengalami kebakaran sangat parah. Dari sini donasi mengalir untuk kebutuhan sekolah dan pakaian, bahkan dari mancanegara salah satunya warga asli Singapura.

Panti yatim yang kebakaran (Dok. pri)

Kunjungan beberapa kali ke panti yatim tersebut membuat hati kami membuncah, dengan kegembiraan sekaligus harapan. Bahwa selalu ada tangan orang baik yang akan terulur selagi kepedulian tumbuh subur. Kejadian tahun 2016 ini menjadi kegiatan pamungkas sebelum kami sekeluarga pindah ke Lamongan.

Sebagai penanda ingatan, ada sejumput sajak yang saya goreskan suatu malam saat menunggu nasi pesanan kami dibungkus di daerah Warung Legok sebelum akhirnya dibagi-bagikan. Rembulan September bersinar benderang, memijarkan energi tak terbendung—tepat tanggal 14 kalender Hijriah. Saya refleks membuka ponsel dan kata demi kata meluncur menjadi puisi untuk mewarat kenangan sekaligus merayakan kegembiraan bisa makan dan berbagi kebaikan.

Rembulan Tanggal Empat Belas

Tanggal empat belas
Rembulan tak bisa dihentikan
Kecuali oleh rindu tak terucapkan
oleh langkah-langkah kaki
dari balik sepi
Tak ada yang mendengar jeritan lapar
Ketika rembulan mekar. Sinarnya tumpah pada daun-daun gemetar

Tanggal empat belas
Rasa kantuk tak boleh tuntas
Meski rumput-rumput sudah terbakar
Oleh deru mesin yang menggerogoti dirimu
Meski malam akan digulung
Oleh segenap mimpi paling brutal
Sebab mulut-mulut masih menganga. Menanti hujan dalam kebisuan

Rembulan tanggal empat belas
Berbicara padamu dengan bahasa yang lugas
Tapi kau terlalu cerdas untuk tak memahami rahasia sebutir beras
Tanggal empat belas
Rembulan akhirnya lunas
Didekap langit yang muram
Maka titik-titik air yang menghempas
Perlu kita sambut sebagai tamu sejarah
Yang menghapus jarak antara kenangan dan airmata
Yang membasuh nurani pada sebongkah memori yang berdebu. yang berliku

Bogor, September 2016

Pijar cinta Garda Pangan 

Buah dari pengalaman pahit di masa lalu membuat kami ketat dan sedikit galak kepada anak-anak dalam soal makanan. Tak bosan-bosan kami tekankan agar mereka mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskan yang sudah diambil. Tak ada cerita atau alasan untuk membuang atau menghamburkan makanan.

Larangan itu punya dasar. Pertama, sebagai bentuk empati karena di luar sana banyak orang yang tak bisa makan—sebagaimana pernah kami alami walau hanya sehari. Maka sangat tak elok jika kami membuang-buangnya. Kedua, makanan yang tersaji di atas meja telah melalui proses produksi yang menyedot sumber daya alam, termasuk energi. Sudah selayaknya mensyukuri makanan dengan menikmati secukupnya tanpa membuang percuma. Kami cemas jika ada makanan tak tandas.

Kegelisahan serupa dirasakan oleh pasangan pengusaha katering pernikahan, Dedhy Baroto Trunoyudho dan Indah Audivtia. Mereka terusik melihat banyaknya makanan berlebih yang akhirnya terbuang percuma. Dalam bisnis, membuang makanan memang dianggap cara paling cepat dan murah. Namun bagi mereka, itu bukan solusi bijak.

Dorongan untuk memberi makna pada sisa makanan membawa keduanya bertemu dengan Eva Bachtiar, sosok yang punya kepedulian sama terhadap isu food waste. Dari pertemuan itu lahirlah Garda Pangan, sebuah gerakan food bank pertama di Surabaya. Gerakan ini dimulai pada 2016 dan resmi menjadi yayasan pada Juni 2017.

Kevin Gani, meneruskan estafet kepemimpinan Garda Pangan (Dok. Kompas)

Pijar kepedulian itu terus menyala hingga kini di bawah kepemimpinan Kevin Gani. 

“Saya bukan pendiri, tapi dipercaya sebagai ketua Yayasan Garda Pangan,” ujarnya. 

Pemuda kelahiran Jakarta yang besar di Surabaya ini bergabung sejak akhir 2017, saat masih berstatus mahasiswa.

Nenek miskin tanpa piring

Sepenggal pengalaman tergurat kuat di hatinya. Suatu hari, saat menjadi relawan, Kevin berjumpa seorang nenek miskin di kawasan Joyoboyo. Hidup sebatang kara dan bergantung pada belas kasih tetangga (yang juga miskin), sang nenek pun menerima bantuan pangan dari Kevin. Namun yang mengejutkan, ia meletakkan makanan itu di dalam gayung, bukan piring. Kevin pun berjanji untuk lebih sering menyambangi dan membantu si nenek. Sayangnya, perempuan tua tersebut berpulang tak lama berselang.

Sejak saat itu, tekad Kevin semakin bulat. Ia diam-diam berhitung, bahwa setiap makanan senilai Rp5.000 yang terbuang berarti membuang tenaga petani, air, hasil panen, dan sumber daya lain yang berharga. Padahal, data FAO menunjukkan 20 juta warga Indonesia masih berjuang keluar dari kelaparan. Lebih ironis lagi, 45 persen sampah di Indonesia adalah sisa makanan, yang menghasilkan gas metana 21 kali lebih berbahaya dari CO. Hal ini memperparah krisis iklim dan risiko kebakaran atau ledakan di TPA (tempat penampungan akhir).

“Kesadaran itu yang membuat saya berjuang melalui yayasan,” tutur sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara (Ubhara) dan magister dari Universitas Dr Soetomo (Unitomo) ini mantap.

Kevin termasuk barisan sukarelawan awal yang bertahan dan berproses serta mau memikul tanggung jawab lebih besar. Semula Kevin adalah koordinator program sukarelawan, lalu dipercaya sebagai bagian dari hubungan masyarakat (humas) dan akhirnya menjadi direktur atau ketua yayasan.

Selamatkan pangan, selamatkan harapan 

Sejak menjadi yayasan, visi Garda Pangan dipertegas, yakni mengelola kelebihan makanan yang berpotensi terbuang agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan sosial, lingkungan, dan ekonomi sesuai prinsip food recovery hierarchy. Adapun misinya adalah menyelamatkan pangan berlebih, menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan, serta mengajak pelaku industri dan bisnis pangan menjadi donor yang lebih peduli.


Garda Pangan juga berupaya meningkatkan kesadaran publik tentang dampak ekonomi dan lingkungan dari limbah makanan melalui kampanye dan edukasi kreatif, sekaligus mendorong pemerintah menciptakan sistem yang mendukung partisipasi aktif masyarakat dalam mengurangi sampah pangan.

Dengan mengusung slogan “Why bin it when you can feed people in need?”, Garda Pangan ingin menjadi perpanjangan tangan orang baik untuk mempertemukan pangan berlebih dengan mereka yang kelaparan.

Food Rescue, jemput sebelum busuk 

Selama ini sampah makanan kerap dianggap sebagai necessary evil, terutama dalam industri hospitality. Nah, salah satu program Garda Pangan adalah food rescue sebagai upaya menyelamatkan surplus makanan dari industri bersangkutan agar tak sia-sia terbuang. 

Upaya penyelamatan makanan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Setiap surplus makanan terlebih dahulu diperiksa kembali kualitasnya, kemudian dikemas ulang secara layak sebelum disalurkan kepada masyarakat pra-sejahtera di Surabaya yang membutuhkan. Proses ini memastikan makanan tetap aman dikonsumsi dan terhindar dari risiko kontaminasi atau keracunan.


Program food rescue dijalankan melalui kolaborasi bersama berbagai mitra, mulai dari restoran, hotel, bakery, kafe, rumah makan, katering, hingga industri pangan lainnya. Para mitra diuntungkan sebab tim Garda Pangan akan menjemput langsung makanan yang belum terjual untuk kemudian didistribusikan kepada penerima yang tepat.

Demi menjaga mutu dan martabat, setiap tahapan dijalankan berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat. Penanganan dilakukan secara higienis, dan proses distribusi dijaga agar berlangsung dengan penuh rasa hormat—karena bagi mereka yang kelaparan, setiap piring makanan bukan sekadar bantuan, tetapi juga wujud kepedulian dan penghargaan. Orang lapar mudah gusar, jadi harus dihadapi dengan sabar. 

Food Gleaning, selamatkan “si jelek yang berharga”

Tidak semua makanan gagal mencapai piring karena basi. Sebagian besar justru tak pernah keluar dari ladang. Menurut data global, sekitar 20–40 persen bahan pangan di dunia terbuang sebelum sempat tiba di rak toko. Alasannya sederhana: buah dan sayur yang tidak memenuhi standar tampilan dianggap tidak layak jual. Permukaannya mungkin tidak mulus, warnanya sedikit pucat, atau bentuknya tidak simetris. Padahal, di balik ketidaksempurnaan itu, nilai gizinya sama segar dan nikmat seperti yang tampak “sempurna”.

Akibatnya, banyak petani harus merelakan hasil panen mereka membusuk begitu saja. Fenomena ini melahirkan istilah ugly produce—si jelek yang sebenarnya berharga. Bukankah ironis ada  banyak makanan layak konsumsi terbuang begitu saja karena penampilan semata padahal jutaan orang di luar sana masih berjuang melawan rasa lapar?

Menghimpun buah yang layak konsumsi tapi tak layak dibeli (Dok. Youtube Garda Pangan)

Melihat kenyataan ini, Garda Pangan menggagas program food gleaning. Melalui inisiatif ini, relawan turun langsung ke lahan pertanian untuk mengumpulkan sisa panen yang sengaja ditinggalkan petani. Hasilnya lantas dikumpulkan, disortir, lalu disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. 

Dengan langkah kecil itu, mereka berupaya mengurangi potensi sampah makanan, sekaligus memastikan setiap butir hasil bumi kembali ke tempat seharusnya: di meja makan, bukan di tempat pembuangan!

Adapun limbah pangan yang tak layak konsumsi, Garda Pangan mengolahnya menjadi pakan ternak dengan teknologi biokonversi black soldier fly (BSF) dan bantuan maggot. 

Food Drive, merayakan dengan berbagi

Sebagai negeri dengan kekayaan budaya dan agama, Indonesia tak pernah kehabisan alasan untuk merayakan kebersamaan. Setiap hari besar selalu diwarnai dengan tumpukan hidangan lezat yang melimpah. Namun, di balik sukacita itu, ada sisi lain yang sering luput dari perhatian. Tidak lain adalah sisa makanan yang menumpuk setelah pesta usai. Karena terbiasa dengan kelimpahan, kita kerap terlupa bahwa tidak semua orang punya kesempatan menikmati santapan serupa.

Kesadaran inilah yang menggerakkan Garda Pangan melalui program Food Drive. Lewat inisiatif ini, Kevin dan tim mengumpulkan donasi makanan berlebih pada momen-momen tertentu, seperti kue kering pasca Idulfitri atau bahan pangan saat bencana melanda. Kotak-kotak donasi disebar di berbagai drop point di Surabaya, sementara para relawan siap menjemput langsung sumbangan dari masyarakat.

Siapa pun boleh menyumbang bahan pangan scara mudah (Dok. Youtube Garda pangan) 

Dengan cara sederhana ini, Garda Pangan mengajak publik untuk mengubah cara pandang terhadap sisa makanan. Bahwa yang berlebih tak seharusnya berakhir di tempat sampah, melainkan bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Bahwa di balik keberlimpahan yang rentan terbuang, ada perut-perut lapar yang menunggu uluran.

Selain fokus pada industri hospitality, Garda Pangan juga berinisiatif untuk menjemput makanan berlebih yang berasal dari berbagai event, pesta, dan selebrasi yang menghasilkan sisa makanan dalam jumlah besar.

Kevin Gani bersama timnya berkolaborasi dengan BEM universitas untuk menyalurkan makanan sisa dari kegiatan kampus seperti seminar, serta bekerja sama dengan wedding organizer untuk mendistribusikan makanan berlebih dari acara pernikahan.

Kampanye untuk mengedukasi publik

Terjun di ruang publik untuk mengedukasi masyarakat (Dok. Youtube Garda Pangan)

Selain aksi langsung dalam penyelamatan makanan, Garda Pangan juga aktif membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengurangi sampah makanan melalui berbagai kampanye kreatif di media sosial maupun kegiatan di Car Free Day (CFD) di Surabaya.

Langkah ini terbukti tepat sebab berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 321 responden dari 31 kecamatan di Kota Surabaya, Garda Pangan mencatat bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengetahui langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu menekan sampah makanan.

Kesenjangan pengetahuan inilah yang menjadikan kampanye dan sosialisasi sebagai kegiatan yang penting dan produktif. Bentuk kampanye dapat dilakukan secara beragam dan kreatif untuk menjangkau lebih banyak orang agar mau terlibat.

Salah satu caranya adalah dengan membagikan tips praktis untuk meminimalkan potensi sampah makanan melalui media sosial. Dengan lebih dari 35 ribu followers di Instagram, kampanye ini bisa efektif bahkan menjangkau warganet di luar Jawa Timur. Pesan penting tentang pengolahan sampah, misalnya, banjir likes sebagai berikut.

 


Edukasi untuk anak

Kesadaran untuk menghargai makanan dan mengurangi sampah makanan perlu ditanamkan sejak usia dini. Karena itu, Garda Pangan memandang pentingnya edukasi tentang isu sampah makanan bagi anak-anak sebagai langkah membentuk generasi yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap masalah ini.

Garda Pangan menyampaikan edukasi tersebut dengan pendekatan yang berbeda, yaitu melalui gamifikasi atau permainan interaktif yang seru dan menyenangkan. Metode ini membuat anak-anak lebih mudah memahami dan mengingat pesan yang disampaikan.

Terus berdetak, terus berdampak

Kami bermimpi sebagai social enterprise yang ingin beroperasi secara mandiri dan berkembang,” ucap pemuda kelahiran Jakarta, Maret 1999 ini.

Saat ini, sekitar 70 persen biaya operasional yayasan ditopang oleh dana swadaya, sementara 30 persennya berasal dari donasi. Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan, Garda Pangan juga memiliki unit bisnis pengolahan pangan berlebih yang berlokasi di Puspa Agro, Sidoarjo, di mana seluruh pendapatannya digunakan untuk membiayai operasional yayasan.

Penerima manfaat dipastikan tepat. (Dok. Youtube Garda Pangan)

Kevin Gani berharap gerakan yang dirintis Garda Pangan dapat memberikan manfaat seluas mungkin bagi masyarakat. Karena itu, proses pemilihan penerima bantuan dilakukan dengan cermat melalui survei agar tepat sasaran. Penerima manfaat terutama berasal dari kalangan duafa, yatim piatu, janda, lanjut usia, penyandang disabilitas, pengungsi, dan tunawisma, yang seluruh datanya tercatat rapi dalam sistem pusat data yang komprehensif.

Dalam dua tahun terakhir, Garda Pangan telah bekerja sama dengan tiga sentra wisata kuliner untuk mengolah bahan dan makanan berlebih. Selain itu, melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), yayasan juga bermitra dengan empat Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).

“Kami gencar mengusulkan agar pola MBG tidak diberikan per paket, tetapi prasmanan; sehingga bukan sisa yang didapat, melainkan kelebihan yang masih bisa segera didistribusikan untuk menekan potensi sampah,” pungkas Kevin.

Atas restu ketiga pendiri yang berinisiatif mendaftarkan dirinya sebagai kandidat penerima SATU Indonesia Awards (SIA), Kevin dan Yayasan Garda Pangan pun diganjar SIA ke-15 tahun 2024 dari PT Astra International Tbk untuk bidang lingkungan sebagai pejuang pangan berkelanjutan.

Garda Pangan telah menginspirasi relawan dan membantu banyak orang.

Perjuangan Kevin Gani dalam memimpin Garda Pangan mencerminkan kerja keras yang dilandasi kepedulian sosial dan kesadaran lingkungan yang tinggi. Dengan komitmen untuk mengurangi sampah makanan di Surabaya, ia tidak hanya menggerakkan timnya menjemput dan menyalurkan makanan berlebih kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan agar setiap "butir nasi" yang tersisa tidak berakhir sia-sia di tempat sampah. 

Sebutir nasi dan kedaulatan pangan

Jika kita sepakat nasi sebagai simbol makanan pokok di Bumi Pertiwi, maka upaya Kevin sejalan dengan makna “hikayat sebutir nasi”, yang mengingatkan kita bahwa setiap makanan memiliki perjalanan panjang—dari petani yang menanam, tenaga yang mengolah, hingga sumber daya alam yang dikorbankan. 

Pelajaran penting ini saya awetkan dari pesan ibu sewaktu menemaninya panen di sawah. Sembari menanti mesin pemanen bekerja, beliau dengan sabar dan tekun mengajak saya memetik tangkai padi yang terlewat oleh mesin otomatis. 

Sedikit atau banyak gabah yang kita dapat, semuanya sudah lewat proses tanam dari awal dengan modal dan perawatan juga masa penantian yang sama,” ujar ibu serius sambil mengulurkan beberapa tangkai berisi bulir padi. Pesannya tegas: tak ada alasan merelakan atau membiarkan makanan terbuang—sekecil apa pun, pada tahap apa pun.

Dengan menyelamatkan makanan dari pemborosan, Garda Pangan telah turut menjaga nilai dari setiap butir nasi agar tidak terbuang percuma. Tentu bukan sebatas nasi, melainkan pangan dalam pengertian seluas-luasnya.

Keberhasilan Kevin Gani adalah bukti kemenangan kolaborasi dan cinta kasih. (Dok. Kompas)

Aksi Kevin lebih dari sekadar aksi kemanusiaan, tetapi perjuangan yang berdampak nyata bagi lingkungan. Makanan yang tidak terbuang berarti lebih sedikit emisi karbon dari proses pembusukan di tempat pembuangan akhir, sekaligus penghematan energi dan sumber daya yang digunakan untuk memproduksi makanan baru. Melalui kerja kerasnya, Kevin Gani telah membuktikan bahwa kepedulian sosial dan aksi nyata terhadap pangan bisa berjalan beriringan dengan upaya menyelamatkan bumi dari krisis lingkungan.

Andaikan Garda Pangan sudah ada di tahun 2012 silam, oh sungguh saya tak perlu menahan malu saat meminjam seliter beras di toko kelontong langganan dengan ujung penolakan. Mengenang sepenggal kisah pahit itu, penderitaan saya memang belumlah seberapa. Ada jutaan manusia lain di Indonesia, bahkan lebih banyak di seluruh dunia, yang meregang nyawa akibat tak terpenuhinya makanan. 

Ketiadaan akses pada pangan bukan berarti mereka malas, tapi banyak faktor yang melatari—salah satunya yang pernah saya alami sendiri. Pada kadar tertentu, sembari menahan perihnya rasa lapar, mungkin mereka tengah khusyuk bercakap atau bermunajat dengan Tuhan lewat bait-bait puisi dalam kesunyian, begitu karib, begitu mesra.

Terima kasih, Garda Pangan. Kini semakin banyak yang terinspirasi untuk bergerak dan berbuat dalam derap harapan agar terbebas (atau membebaskan orang) dari nyeri kelaparan menuju kedaulatan pangan berkat upaya penyelamatan makanan dari potensi pembuangan.





#APA2025-KSB

Comments

Popular posts from this blog

How Andika Wira Teja Gave up His Master's Scholarship to Save His Village

Going Through a Rough Patch: Tentang Hidup yang Semakin Menarik