Going Through a Rough Patch: Tentang Hidup yang Semakin Menarik
Saya dan istri tiba di teras rumah kira-kira pukul 8.30 malam. Saya pulang mengajar les di kursusan sementara dia pulang mengajar ngaji di sebuah TPQ. Sebagaimana hari-hari lainnya, kalau saya ada jam mengajar sore dan habis magrib, maka dia saya antar ke TPQ lalu saya jemput sekitar jam 8. Biasanya dia menunggu di sebuah warkop sembari mengetik di laptop.
Kami sesekali bertukar kata, sambil memandangi layar ponsel masing-masing. Sebenarnya pikiran pusing sebab honor proofreading tak kunjung cair padahal sudah hampir dua pekan sejak penyerahan saat deadline. Bagi kami yang sama-sama pekerja freelance, pencairan honor sungguh sangat kami nantikan sebab dari sanalah dapur berkepul dan sumber anak bisa jajan.
![]() |
| Pahit manis kehidupan, gelap terang sanubari--semoga tetap dalam keimanan (Dok. pri) |
Bunda hanya memasan es teh selama menunggu saya. Saat tiba, saya tidak pesan apa pun selain duduk sebentar sambil meng-update kabar. Sesekali mengecek saldo rekening BCA kalau-kalau uang sudah ditransfer tanpa pemberitahuan. Uang kami bukan lagi pas-pasan, tapi sangat cekak memprihatinkan.
Uang saku Hari Santri
Sebagai gambaran, meteran listrik di rumah sudah beberapa hari kami diamkan berkedip merah sambil mengeluarkan suara berisik penuh gangguan. Sebenarnya tak enak sama tetangga, tapi apa mau dikata. Selagi listrik masih menyala, maka prioritas adalah terpenuhinya kebutuhan dua bocah di pondok nun jauh di Jombang. Setiap ada uang yang masuk, sekecil apa pun nominalnya, biasanya lekas beralih ke rekening pondok untuk uang jajan karena mereka hanya makan dua kali sehari.
Jadi, jangankan untuk mengisi token listrik, tagihan air bulan September pun belum kami lirik. Yang diutamakan juga adalah iuran BPJS sebab Bunda Xi bisa sewaktu-waktu kontrol tensi atau minta obat amlodipin. Jadi selain biaya pondok, bahkan KPR pun, sementara kami kesampingkan.
Sampai lirih hati menangis saat si sulung berkirim pesan Selasa malam itu, tanggal 21 Oktober. Intinya minta uang buat pegangan (kalau pengin jajan) selepas upacara Hari Santri. Tidak banyak, hanya 100.000, dengan rincian 50 ribu untuk dia dan 50 ribu lagi dipinjamkan ke temannya yang belum dapat kiriman.
Kami tak berkutik, perih hati seolah teriris. Tagihan proofreading disertasi belum cair walaupun saya sudah dua kali tanyakan. Padahal itu sangat kami harapkan lantaran kami sudah tak lagi pegang uang. Betul-betul kerontang, bolo, paling tinggal 20.000 buat pegangan--tak ada backup tabungan atau semacamnya.
Akhirnya, dengan berat hati kami beranikan diri meminjam dari pemilik TPQ tempat istri mengajar. Rp500.000 ditransfer malam itu juga, dengan embel-embel tak bisa lama. Kami berjanji akan kami kembalikan segera begitu payment prufrid cair sebesar Rp800 ribu sekian. Yang penting si sulung ada pegangan selama Hari Santri dan sisanya untuk sambang dua bocil Jumat depan.
Jalan terjal sementara
Uang hasil prufrid sedianya akan kami pakai untuk membayar syahriah pondok bulan Oktober yang sedikit tertunda gara-gara uangnya dipakai syukuran buat si sulung yang khatam Taqrib dan naik ke kitab Fathul Qorib. Memang ini kebutuhan tak terduga, dan salah saya juga mengiyakan permintaan si sulung soal berbagi nasi. Bukan menolak lantaran enggan bersedekah, tapi sebab tak tepat waktunya.
Belum lagi setelah itu ada kebutuhan beli kitab-kitab seiring naik ke tingkat lebih tinggi. Kalau ini memang tak bisa ditawar-tawar lagi. Walau akhirnya cicilan KPR terpaksa ditangguhkan sampai saat tulisan ini saya terbitkan. Tak terbayang didatangi debt collector BTN lagi seperti yang kami alami tahun lalu saat cicilan macet nyaris selama tiga bulan.
"Alhamdulillah!" ujar saya spontan ketika listrik rumah mendadak mati semua. Pet! Motor baru masuk teras ketika semuanya tiba-tiba gelap. Syukurlah ada pegangan dari pemilik TPQ baik hati itu. Kami isi meteran dan listrik menyala kembali. Alhamdulillah. Semoga esok tagihan prufrid cair, setidaknya sampai Jumat pekan itu. Gumamku lirih.
Batal ikut pelatihan bahasa Cina
Sambil mengerjakan job sebuah lomba blog, saya mendapat colekan di sebuah grup tentang pelatihan bahasa Mandarin di Pusat Bahasa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Tentang job nulis ini, nilainya sebenarnya recehan tapi lumayan kalau dikumpulkan bisa buat bayar cicilan rumah sebulan.
Baca juga: Hikayat Sebutir Nasi: Dari Perih Kelaparan Menuju Kedaulatan Pangan
Sekarang enggak lagi pilih-pilih besar kecilnya nominal job online, asalkan halal dan bisa dikerjakan--ya gaskan! In this economy, semua serbatakterprediksi. Mungkin selain pegawai negeri sipil, kondisi tak menentu ekonomi bikin kalang kabut kalangan mana pun. Kecuali konglomerat atau pengusaha kelas kakap.
Saya pernah mencicipi kursus bahasa Mandarin saat tinggal di Bogor dulu, tapi tak lanjut. Maka kesempatan ikut pelatihan gratis tentu sangat menggiurkan. Lebih-lebih selain gratis, ada iming-iming uang saku selepas akhir program walau ditambah tanda tangan komitmen untuk mau bekerja sebagai migran ke luar negeri.
Program ini jelas sangat menarik, tapi urung saya ikuti sebab tak mungkin meninggalkan pekerjaan mengajar sekarang. Pelatihan bahasa diadakan di kampus Unair, yang berarti saya mesti ulang-alik Lamongan - Surabaya selama 40 hari dari Senin sampai Jumat sejak pagi sampai sore. Jika dikalkulasi, pengeluaran bisa lebih besar dibanding pendapatan saya sebulan dari mengajar di dua tempat.
Ganjalan lain tentunya hilangnya peluang dapat uang. Jika saya izin selama 40 hari dari tempat mengajar, mungkin bakal diizinkan. Namun konsekuensinya, saya otomatis tak dapat bayaran. Bagaimana bisa menopang biaya bulan depan jika tak ada income? Bukannya tak meyakini rezeki dan karunia Tuhan, tapi mencoba realistis sebab belum memiliki pendapatan tetap padahal kebutuhan tetap mengejar.
Akhirnya menguaplah peluang belajar bahasa asing itu, termasuk lenyap sudah kesempatan untuk melakukan akselerasi ekonomi (mungkin) berkat penguasaan bahasa Xi Jinping tersebut. Namun ya mau bagaimana lagi, pilihan telah dijatuhkan, keputusan terbaik semoga diridhai Tuhan.
Siklus pusing KTP dan ATM BCA
Uang masih tersisa Rp300.000 di rekening, berkurang 200 ribu dengan rincian 50 ribu untuk si bungsu, lalu 100 untuk si sulung, dan 50 ribu untuk mengisi token listrik. Tibalah hari Jumat, tanggal 24 Oktober. Bunda meluncur ke Jombang untuk sambang dan terutama mengecek kondisi si bungsu yang kena scabies alias gudikan. Saya tak bisa ikut sebab mesti mengajar selepas magrib. Lumayan Rp50 ribu diamankan.
Namun drama belum selesai, Ferguso. Hari Rabu sebelum berangkat mengajar di MAN, ponsel saya mendadak mati total. Memang sudah berbulan-bulan enggan dicas dan sering ngelag plus cepat habis dayanya. Maklumlah sudah hampir tiga tahun, jadi memang mesti diremajakan. Lebih-lebih berat tugasnya lantaran dipakai sebagai pemasok koneksi internet ke laptop buat kepentingan menulis.
Karena hape matot, otomatis saya tak bisa mengambil sisa uang yang rencananya dipakai buat ongkos sambang. Biasanya saya tarik tunai lewat fitur Cashless di BCA Mobile. Ini saya lakukan gara-gara kartu ATM nyelip entah di mana yang memang bikin ribet.
Hari Kamis menjelang Asar saya ke bank dengan tujuan mengurus kartu ATM baru. Sungguh sabar oh saya mesti bersabar, ternyata e-KTP saya tidak terbaca di mesin pencetak ATM milik BCA. KTP ini baru saja mendarat setelah dipakai mengurus mutasi motor di Bogor. Fisiknya masih bagus, tapi tidak terdeteksi di sistem. Saya pulang dengan tangan hampa.
Jumat pagi, Bunda langsung pergi ke Jombang sedangkan saya melesat ke Mal Pelayanan Publik di Jl. Lamongrejo. Tiba di sana, dapat antrean 90. Karena lama, saya sempatkan untuk jalan kaki ke bank BCA untuk menarik tunai sisa uang di depan teller. Saya sudah membawa KTP dan buku tabungan.
![]() |
| Kartu ATM BCA akhirnya jadi setelah drama berliku (Dok. istimewa) |
Di luar nurul, saya lagi-lagi ditolak. Petugas teller bilang, syarat penarikan tunai secara langsung adalah dengan menunjukkan salah satu dari dua hal: kartu ATM atau aplikasi m-banking BCA. Ya Allah, jelas-jelas hape saya rusak, mana bisa saya tunjukkan BCA Mobile? Pun kartu ATM saya sudah hilang, makanya hari Kamis saya datang untuk bikin baru.
Ya, nihil dan amsyong. Pulang dengan tangan hampa, enggak bisa narik uang 300 sisa. Selama Jumat hingga Selasa untunglah ada teman yang baik hati meminjami kami selagi menunggu kartu ATM jadi.
KTP baru memang jadi hari Selasa, saya lanjutkan mengurus kartu ATM ke BCA. Uang bisa ditarik dan sebagian dikembalikan. Hanya saja BCA Mobile belum bisa diaktifkan entah karena kendala apa. Minimal saya mengantongi kartu ATM baru jadi bisa tarik sewaktu-waktu bayaran prufrid disertasi cair.
Atap dapur jebol
Selasa siang, pulang ke rumah dengan wajah semringah karena punya e-KTP baru dan kartu ATM sudah di tangan. Begitu mengucap salam dan mengetuk rumah, Bunda langsung meminta Rumi mengajak saya masuk ke dapur. Ya, Rumi dipulangkan sementara karena kakinya kena mata ikan yang kemudian dibedah di BP Muhammadiyah Lamongan. Dengan Rumi pulang, tentu biaya sedikit bengkak karena kami berdua biasanya makan seadanya.
Saya melongo, tak bisa berkata apa-apa. Plafon atas kompor jebol, menimpa kompor dan botol-botol penyimpan bumbu. Hempasan harplek bahkan menjungkalkan wajan berisi minyak, tumpah ke kompor yang bikin enggan berfungsi sampai sekarang. Sudah dibersihkan semaksimal mungkin, kompor tetap macet. Jadilah sejak Selasa hingga kini kami tak bisa masak lauk atau sekadar menyeduh kopi.
Padahal Kamis pekan sebelumnya atap berupa fiber baru saja diganti karena berlubang entah karena apa. Akhirnya ditumpuk dengan lapisan fiber baru untuk menghindari rembesan air ke harplek di atas tempat mencuci.
Hidup begitu menarik
Siang tadi, Sabtu 1 November, si bungsu video call, mengabari kalau gudiknya makin merajalela bahkan sampai ke area kemaluan. Artinya, mesti segera disambangi sekalian antar Rumi balik ke pondok. Alhamdulillah masih ada sisa dikit (sekitar 150 ribu) dari honor prufrid yang sudah dibayarkan.
Namun, eh, namun, entahlah sementara ini kayaknya masih mentok mau apa-apa. Plafon belakang belum bisa diperbaiki karena menunggu dana tersedia. Pas nulis ini, hujan deras menyerang Lamongan malam-malam. Jelas bikin kami tak tenang tidur sebab khawatir lubang yang runtuh kemarin bakal menular ke area lain karena belum pecah satu lembar harplek.
Semoga tidak banjir, cukup ya Allah kami mohon ampun sebab tak berkutik tanpa rahmat dan perkenan-Mu. Semoga job nulis lomba yang tadi kusebut segera cair honornya. Tak berani menarget hadiah, dapat job buzzer-nya saja sudah alhamdulillah.
Ingin kulunasi utang kepada sahabat kami, Izzah yang ada di Jepara. Beberapa kali kami repoti dan selalu membuka hati. Termasuk saat saya curhat atau meluapkan kementokan saat ini. Teman yang selalu mendengar dan menyemangati, alhamdulillah. Hidup kian menarik dengan liku-liku yang tak disangka.
Menanti keajaiban
Dari Izzah saya jadi tahu gaji guru sesungguhnya. Semua bermula dari majalah Santri di atas meja di ruang guru MAN tadi pagi. Saya tertarik melihat isi majalah itu. Tak sengaja ternyata terselip slip gaji dua guru. Ternyata besar juga gaji guru MAN; ada yang 5 juta dan 3,4 juta itu sudah take home pay alias bersih. Di usia sekarang, mau kerja apa yang bisa setara itu kecuali buka usaha sendiri?
Sore hari selepas Asar dan saya siap-siap mengajar di tempat kursus, saya sempatkan mengirim chat ke penerbit yang bulan lalu menawari job ghost writing. Kapan kira-kira dimulai? Maksud saya, kalau segera dimulai, kan saya bisa mengajukan uang muka sekian untuk bayar ini dan itu--terutama KPR yang bikin hati galau.
Rupanya narasumbernya pejabat pemerintah yang sibuk, jadi kemungkinan proyek mundur, hiks. Padahal fee saya proyeksikan untuk membayar sisa biaya masuk pondok si bungsu yang tenggatnya Desember besok. Plus bayar utang karena nilai proyek agak lumayan, sekitar 7 jutaan walaupun sebenarnya lebih rendah dari harga pasaran. Itu pun harus menunggu lama, kalau jadi....
Semoga ya semoga ada kejadian yang tak terduga, keajaiban tak dinyana. Pada-Mu ya Allah kami panjatkan doa setulus hati dalam sujud malam dan pagi Dhuha. Kami tak berkutik tanpa rahmat dan Cinta-Mu. Perkenankan kami bergerak leluasa, ya Allah, menapaki takdir yang kami ridhai. Bukan nasib yang kami sesali karena terasa getir dan mentok sana-sini bahkan sekadar untuk melengkapi lauk setiap hari.
Dua hari sebelumnya saya tanya ke Izzah soal idiom going through a rough patch. Sebenarnya ini pertanyaan retoris karena saya tak butuh jawaban, pun saya yakin dia tahu artinya. Kamus Cambridge punya variasi lain: go thorugh a sticky patch, bad patch, dll. Intinya periode berat dan penuh tantangan sampai-sampai tertekan akibat keterbatasan.
O Allah, we're going through a rough patch right now. We know You're always there for us. Please kindly help us, rescue us, heal us. Aaamiin....


Comments
Post a Comment