Mengapa Kita Selalu Bertanya, "Sampai Kapan?"
- Get link
- X
- Other Apps
"Sampai kapan?" Pertanyaan ini, yang dalam bahasa Jawa diucapkan "Kok suwe?" atau dalam Inggris, "How much longer?", adalah refleksi dari satu perasaan universal: ketidaksabaran. Kita merasa jengah menunggu sesuatu—seringkali rezeki—yang kita harapkan tak kunjung tiba. Kekecewaan ini, sayangnya, seringkali berakar dari kesalahan mendasar dalam memahami apa itu rezeki.
Saya pernah membahas mengapa sulit bersyukur. Berikut adalah empat kekeliruan mindset yang membuat kita terus-menerus bertanya, "Kok suwe?"
Empat Kekeliruan dalam Memaknai Rezeki
1. Rezeki Hanya Diartikan Sebagai Uang
Kita cenderung menyempitkan rezeki hanya pada bentuk uang tunai atau kekayaan materi. Jika kita mendapat nikmat dalam bentuk kesempatan, kesehatan prima, atau kesempatan beribadah, hati kita seringkali tidak tergerak. Padahal, kesehatan dan kesempatan untuk beribadah adalah rezeki tak ternilai yang sering kita abaikan.
2. Rezeki Harus Datang dalam Jumlah Besar
Pikiran kita sudah terkooptasi bahwa rezeki baru disebut rezeki jika datang melimpah ruah atau keroyokan. Ketika rezeki datang sedikit, kita cemberut dan bahkan berani mencemooh Tuhan. Ironisnya, ketika rezeki datang banyak, kita justru lupa bersyukur.
3. Rezeki Adalah Hasil Barter Amal Baik
Ini adalah kekeliruan fatal. Kita mengira rezeki yang kita terima adalah imbalan setara atas semua kebaikan yang sudah kita lakukan. Faktanya, amal baik kita sangatlah minim. Jika kita menunggu barteran, kita akan rugi. Tuhan memiliki rumus-Nya sendiri dan memberikan anugerah-Nya dalam kadar yang jauh melampaui amal saleh yang kita klaim.
4. Rezeki Harus Terakumulasi Cepat (Gak Pake Lama)
Kita menanti akumulasi rezeki besar yang datang dalam waktu sesingkat-singkatnya—GPL (Gak Pake Lama). Keinginan harus cepat terkabul. Ketidaksabaran ini membuat hati meradang, lupa mensyukuri nikmat yang sudah ada. Jika kita mengukur kebaikan Tuhan dari kecepatan (immediacy), kita harusnya merasa malu karena kita sejatinya tidak layak menerima nikmat luar biasa yang sudah datang begitu cepat.
Refleksi: Anugerah yang Terabaikan
Saya teringat sebuah momen refleksi setelah Ramadan, saat Imam shalat Jumat membacakan Surah Ibrahim. Ayat itu menyentak saya karena saya merasa tak tahu diri dan tak tahu berterima kasih.
Tanpa saya sadari, Allah telah menganugerahi saya dan istri dua anak lucu dan berbakat relatif cepat setelah menikah, tanpa melalui ikhtiar atau penantian panjang. Berapa banyak orang yang mendambakan anugerah keturunan, bahkan harus berjuang keras mendapatkannya? Sekelas Nabi Ulul ‘Azmi pun bersyukur setelah diuji penantian yang lama.
Tentu, bertanya kapan permintaan akan dikabulkan adalah hal manusiawi. Namun, jika pertanyaan itu berubah menjadi tuduhan seolah Tuhan tidak adil, itu adalah kesalahan besar (lacut, istilah Jawa untuk keburukan yang melampaui batas).
Pertanyaan seperti, "How much longer?" atau "Kok suwe?"—khususnya saat saya ingin ganti motor, handphone, atau merenovasi rumah—adalah pengingat. Kita harus yakin bahwa setiap pemberian akan indah pada waktunya, dan yang terpenting, bersyukur atas rezeki (baik materi maupun non-materi) yang sudah ada di genggaman.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment