Redefinisi Sukses: Mengapa Ijazah Tinggi Sering Kalah dengan Skill dan Kontribusi

Surabaya, 7 September 2024 – Perjalanan liputan apartemen di kawasan Wonokromo, Surabaya, bersama rekan blogger saya, Mas Nurudin, hari itu bukan hanya tentang rekomendasi properti. Perjalanan yang diwarnai drama batal naik feeder Wira-Wiri dan dilanjutkan dengan Suroboyo Bus ini justru memicu percakapan mendalam: Apa makna kesuksesan yang sesungguhnya?

kontribusi adalah wujud sukses (freepik/rawpixel.com)

Perbincangan kami di tengah padatnya bus memutar dari kegelisahan akan rendahnya partisipasi warga di kompleks perumahan.

Pendidikan Tinggi, Partisipasi Rendah

Kami mengeluhkan fenomena di mana warga di perumahan cenderung enggan terlibat dalam kegiatan sosial atau kepengurusan RT, bahkan hingga menolak membayar iuran. Ironisnya, mereka yang paling hobi melancarkan kritik—beberapa di antaranya lulusan S2—justru menghindar saat diberi amanah. Mereka hanya "banyak bicara" atau sekadar punya konsep, tetapi ogah turun tangan dan tandang gawe (berbuat).

Refleksi ini membawa kami pada kesimpulan: Ada yang salah dalam cara kita mendefinisikan kesuksesan.

Selama ini, lingkungan sosial dan pendidikan cenderung mengukur kesuksesan secara sempit: pintar akademis, punya jalur karier linear, dan meraih jabatan mentereng yang terlihat jelas (seperti PNS atau karyawan berseragam).

Kesuksesan Sejati Ada di Passion dan Kontribusi

Faktanya, kesuksesan nyata sering ditemukan di luar jalur akademis konvensional:

  • Seorang sahabat sarjana hukum kini sukses menekuni bisnis batik tulis di Gresik—sebuah upaya pelestarian budaya.

  • Sahabat lain, mantan wartawan media nasional, kini sukses membangun usaha Event Organizing (EO) pasca-PHK.

  • Murid Mas Nurudin yang tadinya malas di SMA, justru menemukan passion di Politeknik, memilih jurusan Teknik Informatika, dan kini berpenghasilan belasan hingga puluhan juta di PLN dan Pelindo.

Kasus paling mencengangkan adalah murid Mas Nurudin yang dulu ia ajar. Meskipun kuliah jurusan agama, ia kini sukses besar sebagai ilustrator remote, meraup ribuan dolar dari klien luar negeri melalui platform online. Ia bahkan mampu membeli mobil Brio RS secara cash dan tanah—semua berkat keterampilan menggambar yang diasah secara otodidak.

Kesuksesan sejati adalah ketika seseorang menekuni skill atau passion yang kuat dan mampu memberdayakan dirinya serta berkontribusi kepada masyarakat, terlepas dari label akademis.

Pendidikan Karakter sebagai Fondasi Utama

Pembicaraan kami bergeser ke anak-anak. Mas Nurudin bingung mengarahkan anaknya, sementara saya memilih mendorong anak sesuai kecenderungannya (menggambar). Namun, kami sepakat: bekal agama dan karakter adalah fondasi utama.

Sebuah cerita dari Rektor UISI, Pak Herman, saat menempuh beasiswa di Jerman, menegaskan hal ini: Kepala TK tempat anak Pak Herman bersekolah—seorang profesor—memuji anaknya karena spontan berlari menolong anak korban Perang Yugoslavia. Pihak sekolah bertanya: "Diajari apa di rumah, Pak?"

Pujian ini bukan soal nilai, melainkan pendidikan karakter: kepedulian pada sesama tanpa memandang ras atau agama. Sekolah dasar di Jerman bahkan tidak menuntut pelajaran akademis hingga kelas 3; fokusnya adalah konsep pemilikan, hak dan kewajiban, serta menghargai keragaman. Bahkan di Finlandia, memasak dan beres-beres rumah diajarkan tanpa memandang jenis kelamin.

Inilah inti yang hilang: pendidikan karakter. Jika bekal agama dan tauhid kokoh, anak-anak akan punya pijakan mantap untuk beradaptasi, berwirausaha, atau bekerja di mana pun, tanpa gamang menghadapi godaan.

Kesuksesan yang Anfaa (Bermanfaat)

Sudah saatnya orang tua dan guru tidak lagi menjadikan capaian akademis sebagai satu-satunya tolok ukur sukses. Hal itu hanya akan menghambat potensi anak di bidang lain.

Pesan yang saya sampaikan pada murid-murid SMA yang saya ajar menjelang PTN adalah: Entah kuliah atau tidak, mereka harus berdaya lewat kontribusi nyata dan menjadi generasi ‘anfaa’ (penebar rahmat).

Kesuksesan itu bukan sekadar memiliki aset (punya ini itu), melainkan bagaimana kita mengatasi ketakutan, memanfaatkan peluang, dan memberi manfaat.

Mendengar kisah para pengusaha yang bangkrut dan akhirnya menemukan makna hidup setelah kembali ke masjid dan mengajar mengaji—seperti yang diceritakan oleh sahabat saya dari Madiun—semakin menguatkan keyakinan ini.

Kesuksesan sejati tidak diukur dari kecepatan meraih uang (GPL), melainkan dari kedalaman manfaat dan kemuliaan pengabdian yang kita berikan, baik itu di pasar, di perusahaan besar, atau di majelis ilmu.

Comments

  1. Trnyata mampu mengatasi ketakutan juga bagian dari kesuksesan. Aku Masih belum sukses karena kadang Masih takut menghadapi hari esok, hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hikayat Sebutir Nasi: Dari Perih Kelaparan Menuju Kedaulatan Pangan

How Andika Wira Teja Gave up His Master's Scholarship to Save His Village

Going Through a Rough Patch: Tentang Hidup yang Semakin Menarik